Tampilkan postingan dengan label Ruang Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Wanita. Tampilkan semua postingan

20/04/12



Dicopy dari Cristian Counseling Center Indonesia (YLSA, Sabda org.)
Sinar matahari yang merebak di waktu subuh mulai menerangi meja makan selagi anak-anak menuang sereal mereka dan mengoleskan mentega pada roti bakar mereka. Di lantai atas, Ibu sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam tas kantornya dan bergegas turun ke dapur. "Ayo cepat, anak-anak. Ibu ada rapat penting pukul 8. Ibu hanya punya sedikit waktu untuk mengantar Sara dan Christopher ke sekolah, mengantar Bethany ke tempat penitipan anak, dan langsung ke kantor. Ayah akan pulang untuk menyiapkan makan malam sekitar pukul 5, jadi kalian harus membantu Ayah. Ibu akan main tenis sampai pukul 18.30."
"Bu, bolehkah saya meminjam mobil BMW Ibu untuk pergi ke mal nanti malam?" pinta Sara yang berusia 16 tahun.
"Ibu tidak bisa memutuskan sekarang. Ibu tidak mau ada orang yang menabrakkan mobil Ibu di tempat parkir. Kita akan bicarakan hal itu nanti setelah lbu pulang. Dan Sara, tolong tuliskan catatan untuk pembantu rumah. Suruhlah ia untuk mencarikan Alkitab Bethany. Ibu tak punya waktu untuk mencarikannya."
Dunia kita saat ini menggambarkan ibu modern sebagai seorang wanita yang serba sibuk, bekerja keras, dan penuh tuntutan. Inikah jalan hidup yang alkitabiah bagi wanita Kristen masa kini? Apa yang diharapkan dari seorang ibu yang takut akan Tuhan; apakah ia harus bergulat dengan tugas ganda, yakni tugas-tugas kantor dan tugas rumah tangganya, atau tidak?
Mari kita mulai dari awal, di Taman Eden. Adam telah diberi tugas. Ia memiliki sebuah taman yang subur dan luas untuk dipelihara dan sejumlah besar binatang untuk diberi nama. Tak peduli betapa sibuknya Adam, ia tetap menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang -- ada sesuatu yang tidak lengkap, tidak terpenuhi, dan terasa hampa. Pada saat itulah Allah bertindak untuk mengatasi dilemanya. Dia menciptakan Hawa.
Hawa melengkapi kebutuhan Adam dengan sempurna. Ia memiliki segala sifat yang dibutuhkan untuk melengkapi kebutuhan fisik, emosi, intelektual, dan sosial Adam. Hubungan saling melengkapi yang berawal dari suatu kekosongan yang dirasakan pria dan kemampuan wanita dalam mengisi kekosongan itu menjadi dasar dari suatu pernikahan (1 Korintus 11:9).
Dengan latar belakang ini dalam pikiran kita, marilah kita menilik kembali Efesus 5, perikop yang banyak memberikan pengajaran kepada kita tentang peranan suami di rumah. Namun berikut ini, sisi yang akan disorot adalah peranan seorang istri.
Dalam ayat-ayat ini Paulus mengemukakan beberapa tindakan mendasar yang patut dilakukan seorang istri:
  • Ia tunduk kepada Tuhan.
  • Ia tunduk kepada suaminya.
  • Ia menghormati suaminya.
Pengajaran ini tak akan dapat dipahami dengan benar jika dipisahkan dari bagian Kitab Suci yang lain. Misalnya, firman Allah mengajarkan bahwa semua orang Kristen, baik pria maupun wanita, setara secara rohani di hadapan Allah. Di samping itu, Kitab Suci memperlakukan wanita sebagai manusia yang bermartabat tinggi. Kitab Suci tidak menganggap wanita sebagai warga negara kelas dua. Fakta ini, bersamaan dengan hal-hal yang telah kita ketahui tentang penciptaan Hawa sebagai pelengkap Adam, akan membantu kita untuk memahami pesan Paulus kepada para istri.
  1. Ia tunduk kepada Allah (Efesus 5:22).
  2. Tunduk bukanlah hal yang mudah. Secara alami kita ingin berkuasa dan menentukan tujuan hidup sendiri. Namun, salah satu rahasia dari kehidupan kristiani yang berhasil adalah dengan mengizinkan Allah menjadi Tuhan dalam kehidupan kita. Bila hal itu dilakukan, yakni bila istri rela menyerahkan kendali ini kepada-Nya, maka ia akan merasa mudah untuk tunduk kepada suaminya "sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan." (bandingkan dengan Kolose 3:18)
  3. Ia tunduk kepada suaminya (Efesus 5:22).
  4. Di sini Paulus tidak sedang berbicara mengenai merendahkan martabat. Harga diri seorang wanita tidak berkurang hanya karena ia memutuskan untuk tunduk. Yesus sendiri, misalnya, tunduk pada pimpinan dan bimbingan Allah selagi Dia hidup di bumi ini, tetapi tindakan-Nya itu tidak menjadikan Dia kurang ilahi. Bahkan, Yesus datang ke bumi ini sebagai seorang hamba. Namun, martabat-Nya tidak lebih rendah dari pada manusia.
    Seorang istri yang tunduk kepada suaminya juga bukan berarti mencampakkan kecerdasan, keterampilan, intuisi, atau pengertiannya sendiri. Ia semata-mata hanya ingin mengakui bahwa Bapa tahu yang terbaik tentang peranan dari setiap anggota keluarga (1 Korintus 11:3). Seorang suami atau istri yang tidak menjalankan fungsinya dengan cara yang diminta Allah hanya akan mendapatkan kesulitan dalam kehidupan rumah tangganya.
  5. Ia menghormati suaminya (Efesus 5:33).
  6. Nasihat penutup bagi para istri ini bukanlah suatu pilihan. Seorang istri harus menghormati dan menghargai suaminya sekalipun ia tidak layak menerimanya. Sebenarnya dalam 1 Petrus 3:1-6, Petrus menekankan agar para istri menghargai dan tunduk kepada suami mereka yang "tidak taat kepada Firman" (1 Petrus 3:1). Hal ini kedengarannya tidak masuk akal, tetapi Petrus menambahkan bahwa suami-suami yang demikian bisa "dimenangkan oleh kelakuan istrinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup istri mereka itu." (1 Petrus 3:1-2)
    Bacaan Alkitab lainnya yang menjelaskan tentang peranan wanita dalam keluarga dapat ditemukan dalam kitab Titus. Di sini para wanita tua dalam jemaat diminta untuk mendidik para wanita yang lebih muda untuk melaksanakan kewajiban mereka. Sekalipun ayat-ayat ini ditujukan kepada para wanita yang lebih tua, namun para wanita yang lebih muda juga dapat memetik pelajaran daripadanya. Paulus mengemukakan dua prinsip bimbingan untuk para ibu sebagai berikut: ia harus mengasihi keluarganya dan memberi teladan tentang menguasai diri dan menjaga kekudusan.
  7. Ia mengasihi keluarganya dengan sepenuh hati (Titus 2:4).
  8. Seorang ibu harus mengutamakan keluarganya. Dalam masyarakat kita, bila seorang ibu dibebani dengan tekanan ekonomi yang berat sementara ada kesempatan yang terbuka untuk berkarier, maka dengan mudah ia dapat mengabaikan keluarganya. Namun, jika ia mau menyisihkan waktu dan menyimpan sebagian energinya, maka ia akan dapat memberi perhatian yang cukup bagi setiap anggota keluarganya. Salah satu karakteristik dari keluarga yang berhasil adalah daya tarik cinta kasih dari seorang ibu. Kasih ini tak dapat digantikan oleh apa pun.
  9. Dalam mengurus rumah tangganya, ia akan menunjukkan teladan tentang penguasaan diri, kebaikan, dan kekudusan dalam pikiran serta hati (Titus 2:5). Hal ini tidaklah semudah yang kita bayangkan.
  10. Penguasaan diri: misalnya, saat anak-anak menumpahkan cokelat panas di atas karpet ruang tamu. Ketika mereka tidak dapat mengerjakan pekerjaan rumah. Sewaktu mereka terus-menerus bertengkar. Saat mereka bersikeras tidak mau ke gereja dengan berbagai alasan. Ketika mereka menolak untuk makan hidangan yang Anda siapkan.
    Kebaikan: misalnya, ketika tak seorang pun mengucapkan terima kasih kepada Anda. Tatkala anak-anak Anda tak henti-hentinya mengotori rumah yang telah Anda rapikan berkali-kali. Waktu seorang tetangga menuduh anak Anda berbohong.
    Kekudusan pikiran dan hati: misalnya, ketika tak seorang pun di rumah dan acara sinetron di televisi merangsang gairah seks Anda. Saat seorang rekan kerja menunjukkan perhatian khusus kepada Anda. Tatkala majalah yang Anda baca di ruang tunggu dokter mengangkat topik tentang seks bebas.
    Penguasaan diri, kebaikan, dan kekudusan akan diperoleh bila kita memelihara persekutuan dengan Allah melalui aktivitas-aktivitas seperti doa, pembacaan Alkitab, dan menerima pengajaran Alkitab yang benar.
Prinsip-prinsip dari Kitab Amsal bagi Para Istri dan Ibu
Seorang istri dan ibu yang saleh dan cakap:
- lebih berharga dari pada permata (Amsal 31:10)
- dipercaya oleh suaminya (Amsal 31:11)
- berbuat baik kepada suaminya (Amsal 31:12)
- bekerja dengan giat dan penuh semangat (Amsal 31:14,17)
- melayani anak-anaknya dan seisi rumahnya (Amsal 31:15)
- bijaksana dalam mengatur keuangan (Amsal 31:16,18,24)
- suka memberi bantuan kepada yang membutuhkan (Amsal 31:20)
- selalu mempersiapkan segala kebutuhan keluarganya (Amsal 31:21)
- percaya diri dan bermartabat (Amsal 31:25)
- bijaksana dan merupakan seorang pengajar yang baik (Amsal 31:26)
- rajin mengawasi segala kegiatan dalam rumah tangganya (Amsal 31:27)
- dihargai oleh keluarganya (Amsal 31:28)
- takut akan Tuhan (Amsal 31:30)
Diambil dari:
Judul asli buku:How Can the Family Survive?
Judul buku terjemahan:Bagaimana Mempertahankan Kehidupan Berkeluarga?
Penulis:Dave Branon
Penerbit:Yayasan Gloria, Yogyakarta 1992
Halaman:10 -- 15







07/01/12


"TERANG SUDAH TERBIT, LANJUTKAN....."


Mzm 97:11  Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati.
Mzm 36:10  (36-11) Lanjutkanlah kasih setia-Mu bagi orang yang mengenal Engkau, dan keadilan-Mu bagi orang yang tulus hati!


Alkitab mencatat beberapa nama perempuan yang populer pada zamannya , namun terus menjadi perbincangan sampai sekarang.(yang menarik perhatian saya).

Perempuan ke-I

I Raja-2 17:12  Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati."


Ibu janda "perempuan Sarfat" yang melayani nabi Elia. Saya rasa zaman yang sulit sekarang ini tidak akan ditemukan lagi perempuan janda seperti janda dari Sidon ini. Persediaan makanan terakhir harus direlakan untuk orang lain, apa mungkin ? Ya, sangat mungkin kalau ia percaya bahwa apa yang diucapkan seorang utusan Allah/nabi/hamba Tuhan, adalah firman Tuhan. Namun sekali lagi "kemungkinan" ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang tulus hatinya, artinya mereka tahu dengan benar bagaimana melakukan bagiannya. Dan ibu janda Sarfat ini telah melakukannya dan ia berhasil.Sedikit minyak dalam buli-buli dan segenggam tepung yang adalah persediaan terakhirnya, tidak pernah habis sampai masa "paceklik" (masa kesusahan) juga berakhir.Dahsyat.

Perempuan ke-II

Maria istri Yusuf. Apapun pendapat orang mengenai sejarah kelahiran Kristus Yesus Juruslamat dunia dan apapun cacimaki dan hujatan orang terhadap sejarah kelahiran yang ajaib ini, tetap ini adalah sejarah dunia yang tak terkira dan tak tertandingi. Amen. Semua orang boleh berpendapat, namun ke-benaran Alkitab tak kan tergoyahkan. Apa yang diagungkan dari seorang Maria ? Ia dianggap memenuhi syarat ilahi untuk menjadi "ibu" bagi Juruselamat. Karena keduanya adalah orang-orang yang tulus hatinya, Yusuf seorang yang tulus hatinya, dan Maria selalu berkata "jadilah pada ku seperti yang  Engkau mau, karena aku ini hamba". Allah menciptakan "hubungan suami istri" begitu sempurna dan indah pada waktunya, namun seringkali menjadi alasan bagi orang-orang tertentu untuk melanggar batasnya jika mereka tidak mendapatkan seperti yang mereka inginkan.

Matius 1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
19  Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam diam.
20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."
22  Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" —yang berarti: Allah menyertai kita.
24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,
25  tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

Perempuan ke-III

Nama dan sejarahnya tidak tercatat dalam Alkitab dan buku manapun. Itulah saya. Ya, mungkin pikiran kita sama bahwa meskipun begitu kita adalah bagian dari rencana Allah.Setuju. Maka baiklah kita memeriksa Alkitab kita apakah benar kita bagain dari rencana itu ?

Mzm 139:13  Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
Yes 1:18  Marilah, baiklah kita berperkara! —firman TUHAN—Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.
1Yoh 1:9  Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Ayat-ayat ini adalah sebagian alasan saya mengapa saya mengindikasikan bahwa saya boleh termasuk bagian dari rencana Allah. Semoga saya tidak terlambat memahaminya. Benar saya perempuan biasa namun ketika melihat dan merasakan bagaimana Allah mengerjakan hidup saya untuk menjadi "terang" (memberkati) terbukti tidaklah mudah diproses menjadi seperti yang Allah rencanakan. Selalu saja ingin melawan Tuhan, melanggar Firman Nya ketika kita sedang dipimpin, diatur Tuhan. Menyanyikan pujian rohani "tiap langkahku Tuhan dimuka ku" tidaklah menjadi jaminan bahwa kita sudah seperti yang direncanakan.
Namun saya patut bersyukur bahkan lebih lagi mengerti bahwa "terang-Nya" didalam saya harus bersinar. Ia telah menjadikan saya "milik-Nya" dan inilah tandanya bagi saya untuk selalu memeriksa apakah saya sudah berbuah atau saya "seperti gong yang gemerincing" by Lydia K  

Galatia 5:22  Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
23  kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
24  Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.



25/11/11

          "Darimana datangnya cinta dari mata turun kehati" pepatah ini sangat menggoda, bukan hanya bagi laki-laki saja tapi juga bagi perempuan. Cinta selalu ada dimanapun kita  berada, dirumah, disekolah, ditempat bekerja, dimana ada aktifitas disitu ada cinta. Maka tidak jarang dikemudian hari ada "cin-lok" (cinta lokasi). Menjalin hubungan sampai pada akhirnya saling cinta pasti tidaklah mudah. Bayangkan saja dari mata turun kehati...harus ada tahapan demi tahapan, bertemu pertama, 'dilala' bertemu kedua ditempat yang tidak terduga, berpandang-pandangan dan saling 'curiga' ah kog bertemu disini, adakah benih...?
Tidak lama kemudian ada pertemuan tak sengaja yang memberi sedikit getaran, sehingga ada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang disinyalir sebagai tanda cinta, dan mungkin jodoh.
         Mengagumkan memang, tapi 'cinta saja tidak cukup' untuk kelanggengan sebuah hubungan. 
Mengapa ? karena 'cinta' ibarat  tinta. Tinta yang berkualitas tidak  akan mudah luntur, meskipun kena sinar matahari dan cuaca serta dimakan usia.
      Sebuah kisah cinta dalam Kitab Rut yang mengharukan adalah ketika Elimelekh mengajak seluruh keluarganya mengungsi ke-Moab karena terjadi bala kelaparan di-Betlehem (yang arti katanya 'rumah roti'), demi kelangsungan hidup maka mereka meninggalkan negerinya. Tapi apa yang terjadi dikemudian hari adalah Elimelekh akhirnya meninggal, demikian juga, anak-anak nya Mahlon dan Kilyon juga meninggal. Perempuan Moab yang menjadi menantu Naomi pun menjadi janda. Menurut adat istiadat bangsa Israel jika anak laki-laki mati maka apabila masih ada anak laki-laki lain yang belum mempunyai istri, dapat menggantikan orang laki-laki yang meninggal itu untuk menjadi pengganti yang mati. Tapi "....tidak mungkin aku memberikan kepadamu anak laki-laki sekalipun malam ini aku mempunyai suami..." begitu alasan Naomi kepada menantu-menantunya. 
      Dengan sedih akhirnya Orpah meninggalkan mertuanya dan kembali ke-Moab. Saya rasa Naomi sedang berpikir bahwa kali ini pun Rut akan kembali ke-kampung halamannya seperti halnya Orpah. Sangat masuk akal untuk meninggalkan mertuanya dalam keadaan seperti ini. Rut tidak hanya mencintai suaminya, tetapi juga mertuanya. Tapi apakah cinta saja sudah cukup ?  Tidak. Rut tidak hanya memiliki cinta tapi ia telah mengambil resiko meninggalkan negerinya, keluarganya, bahkan dewanya untuk mengabdi kepada mertuanya, ia telah mengambil langkah yang sangat berani. Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!"
Rut 1:16,17
        Dalam sebuah hubungan, cinta saja tidak cukup, kasih harus berada diantaranya, karena kasih mengandung unsur ilahi. Kasihlah yang membuat kesulitan sebagai warna lain dalam kehidupan, dan gelombang sebagai nada-nada indah yang menyertai. Hubungan suami istri yang rumit dan unik akan menjadi indah jika ada kasih diantara mereka. Kasih itulah pengabdian dan pengorbanan. Dalam menjalin hubungan tidak mungkin keduanya saling mengabdi atau saling berkorban, melainkan haruslah salah satu diantaranya, dan dialah yang menjadi  pemenang, dialah yang yang istimewa. Naomi pasti merasa puas dan bangga memiliki menantu seperti Rut. Dalam hal ini Naomi hanya memberikan pilihan, dan Rut telah memilih dengan tepat. Perempuan-perempuan yang hebat dalam Alkitab adalah mereka yang mengabdi dan berkorban karena penuh cinta dan kasih. 
      Berbahagialah Boas yang mendapatkan Rut sebagai istrinya, berbahagialah .....dan berbahagialah Daud yang memiliki nenek yang hebat. Hmm ...berbahagialah juga semua suami yang memiliki istri yang penuh cinta dan penuh kasih. by lydia ku
                  

15/11/11




Perempuan


          Perempuan diciptakan untuk menjadi Ibu. Meskipun tidak semua menjadi ibu, juga  tidak semua berhasil menjadi ibu yang baik. Saya tersanjung sudah menjadi ibu bahkan sudah menjadi nenek. Anak-anak yang baik, sehat dan pandai lahir dari perempuan-perempuan yang siap menjadi ibu. Menurut hemat saya memang sulit menjadi ibu, karena harus memenuhi banyak persyaratan. Kaum lelaki didunia ini selalu mengatakan bahwa perempuan yang dicintainya "cantik", walaupun jelek menurut pandangan orang lain. Bukankah ini berarti bahwa cantik itu sangat relatif, perempuan cantik dari hati sangat dicari oleh kaum laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Kaum laki-laki akan menjadi lebih hebat dan kuat jika mempunyai istri yang cantik hatinya dan cantik juga parasnya, Puji Tuhan.
           Raja Ahasyweros mempunyai istri yang sangat cantik bernama Wasti, beliau sangat bangga dan selalu ingin memamerkan kecantikannya kepada pejabat-pejabat dan tamu-tamu terhormat lainnya, namun apa yang kita dengar adalah Wasti tidak menghormati perintah raja yang adalah suaminya sendiri. Apakah akibatnya ?, Wasti di'usir' dari istananya dan Ahasyweros mencari permaisuri lain sebagai pengganti dan secara kasat mata Ahasyweros menginginkan perempuan cantik yang mau menghormati suaminya. Lalu dibuatlah semacam kontes kecantikan untuk mencari pengganti Wasti, dan lahirlah seorang Ester yang direferensikan oleh para konsultan kecantikan dan kepribadian istana bahwa Ester jauh lebih baik ketimbang Wasti, rupanya kecantikan fisik seorang Wasti lebih menonjol ketimbang kecantikan hatinya.
              Perempuan  cantik fisik dan cantik hati adalah perempuan yang sulit dicari, 'harus' dicari dengan teliti diantara sekian banyak 'wanita'. Perempuan-perempuan yang cantik hatinya memang tidak banyak bicara, biasanya mereka berada ditempat-tempat yang seharusnya, misalnya diantara orang-orang yang membutuhkan kehadirannya. Jika ia bekerja maka dia akan selalu berusaha untuk membantu meskipun dia sendiri kadang tidak diperhatikan, selalu saja memberi perhatian bukan menjadi perhatian. Ia pandai sekali membagi waktunya untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain, ia tahu bagaimana melayani orang-orang yang layak untuk dilayani. Ia selalu tersenyum ketika ada yang memalingkan wajahnya karena mungkin ia tidak nampak seksi secara fisik, tapi coba lihat anak-anak sangat menyukai ketika ia sedang bercerita dan  selalu ingin berada didekatnya. Ia bahkan pandai memulihkan dirinya sendiri ketika ia letih dan lesu.
          Saya seorang ibu dan juga nenek, tersanjung dipanggil mamah dan eyang putri, juga  berperan sebagai  ibu dan nenek bagi jemaat. Perempuan-perempuan muda sering bertanya, bagaimana menjadi seperti sekarang ? saya tidak dapat menjawab dengan kata-kata, tetapi saya yakin bahwa mereka ingin menjadi ibu bahkan nenek yang baik. Teladan adalah jawaban yang tepat bagi mereka, karena jika memberi jawaban secara teori, wah...saya rasa mereka lebih pandai dan lebih tahu soal itu. Banyak buku-buku yang bisa memberi jawaban, bisa membaca begitu banyak artikel melalui internet.
             Dikelas bimbingan pra-nikah, saya selalu mengawali pelajaran dengan pertanyaan, untuk apa mereka menikah (tujuan pernikahan) ?, jawaban yang saya dapatkan hampir semua calon mempelai adalah sama, karena cinta. Cinta bukanlah syarat untuk seseorang menikah, karena cinta akan luntur jika terserang 'kan-ker' alias kantong kering, atau sering terlambat pulang kerja, sering berbeda pendapat, selera dan hobi sering bentrok. Cinta sering hilang pada usia pernikahan melewati tahun ke-7.
          Zaman kakek nenek saya; cinta selalu diikut sertakan bersama waktu dan hari-hari yang berjalan seiring dengan pernikahan mereka dan tidak jarang malah semakin lama mereka bersama semakin tumbuh cinta mereka sampai maut memisahkan mereka, artinya cinta tumbuh ketika mereka sudah menikah, bukan sebelum menikah. Sekarang ? suami-suami muda seringkali mengeluh karena istri-istri mereka tidak memahami situasi dan kondisi pekerjaan serta usaha mereka, istri-istri muda sering mengeluh karena suami hanya bersikap baik dan mesra hanya pada waktu mereka hamil, setelah itu ? biasa-biasa saja. "dulu baik hati, setelah menikah, menjadi ringan tangan, dulu mesra, sekarang apa...? salah sedikit bentak-bentak..." dan masih banyak lagi. Sebelum mereka menikah sudah diperingatkan dalam bimbingan pra nikah bahwa menikah itu sangat tidak menyenangkan, istri harus tunduk kepada suami seperti kepada Kristus, dan suami harus mengasihi istri seperti mengasihi dirinya sendiri.
             Ketika saya akan menikah, tidak ada kelas bimbingan pranikah, tidak ada konseling pernikahan dan serupa itu. Saya ingat ketika saya masih disekolah Alkitab, saya mempunyai ide untuk sharing dengan ibu-ibu senior (istri-istri dosen), tapi oleh mereka saya dianggap ingin menyelidik, ingin tahu seperti apa keluarga mereka. Perempuan-perempuan muda akhir zaman ini harus bersyukur karena yang dulunya tidak saya alami sekalipun saya harapkan, sekarang sudah tersedia dan lengkap. Sewaktu saya masih remaja, nasehat ibu saya hanya satu kalimat sederhana saja, "dimanapun, kapanpun jagalah kekudusan nama Tuhan dan pandai-pandai membawa diri" waktu itu saya belum mengerti, tapi selalu saya ingat dan betapa sulit untuk menjaga kekudusan nama Tuhan, tidak semudah mendengarkannya.
                Demikianlah selama pernikahan sampai hari ini dengan gelar istri, ibu dan nenek bukanlah sesuatu yang mudah dilewati, tetapi alangkah hebatnya seorang perempuan ketika melihat bahwa anak laki-laki siap menjadi laki-laki dan anak perempuan siap menjadi perempuan. Segala perjuangan selama menjadi teladan bagi mereka tidaklah sia-sia sekalipun bagi mereka ibunya bukanlah perempuan yang sempurna.
                     Jika anda adalah perempuan-perempuan yang istimewa baca dengan teliti dan pelajari dengan seksama nasehat Raja Salomo di kitab Amsal 31, judul perikopnya "Epilog: Istri yang cakap" plus Efesus 5:22-33, ya...!? sekalipun anda belum menjadi istri, tapi anda diciptakan untuk menjadi ibu kan ? by Lydia K






Diberdayakan oleh Blogger.
  •  

    Copyright 2010 GSJA Serang.

    Theme by WordpressCenter.com.
    Blogger Template by Beta Templates.